Berita

Breaking News

Wabah Mengintai dari Segala Arah: Demam Tifoid, DBD, dan ISPA Mencekik Banjarbaru!

Ahyar Wahyudi
BANJARBARU, kalseltoday.com - Pola penyakit menular di Kota Banjarbaru hingga pekan ke-6 tahun 2025 mengindikasikan tantangan kesehatan masyarakat yang semakin kompleks. Dengan kondisi geografis yang terletak di bagian utara Kalimantan Selatan pada koordinat 3°25'40” - 3°28'37” Lintang Selatan dan 114°41'22” - 114°54'25” Bujur Timur, serta luas wilayah mencapai 328,83 km², Banjarbaru memiliki beragam karakteristik topografi yang turut berperan dalam persebaran penyakit. Wilayah perbukitan di bagian utara dan timur serta dataran rendah dan rawa di bagian barat dan selatan menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan vektor penyakit, terutama nyamuk Aedes aegypti yang bertanggung jawab atas 91 kasus demam berdarah dengue (DBD) yang dilaporkan. Kondisi ini diperburuk oleh curah hujan tinggi di awal dan akhir tahun yang meningkatkan kelembaban lingkungan hingga mencapai 75%-90%, menciptakan tempat ideal bagi perkembangbiakan vektor penyakit. Studi yang dilakukan oleh Brady et al. (2022) menunjukkan bahwa daerah dengan kelembaban tinggi dan suhu berkisar 23°C hingga 35°C cenderung mengalami lonjakan kasus penyakit berbasis vektor.

Selain penyakit yang ditularkan oleh nyamuk, penyakit berbasis sanitasi seperti demam tifoid dan diare akut juga menjadi perhatian serius. Hingga pekan ke-6, tercatat 410 kasus demam tifoid dan 580 kasus diare akut, menegaskan adanya tantangan dalam akses terhadap air bersih dan sanitasi yang memadai. Wilayah yang memiliki tanah rawa dan drainase buruk rentan terhadap pencemaran sumber air, meningkatkan risiko penyebaran bakteri Salmonella typhi dan patogen penyebab diare lainnya. WHO (2022) menegaskan bahwa kurangnya akses air bersih berkontribusi signifikan terhadap peningkatan kasus penyakit pencernaan, terutama di daerah yang memiliki sistem sanitasi yang belum optimal. Penelitian Crump et al. (2022) menunjukkan bahwa intervensi berupa perbaikan sistem pengolahan air minum dan edukasi masyarakat dapat menurunkan angka kejadian penyakit berbasis lingkungan hingga 60%, menjadikannya langkah strategis yang perlu diprioritaskan.

Di sisi lain, penyakit yang berkaitan dengan infeksi saluran pernapasan seperti ISPA, pneumonia, dan influenza-like illness (ILI) mengalami peningkatan tajam. Data menunjukkan 3.800 kasus ISPA, 180 kasus pneumonia, dan 98 kasus ILI, mengindikasikan dampak dari kualitas udara, kepadatan penduduk, serta perubahan iklim. Sebagai kota yang berkembang pesat dan menjadi pusat pendidikan serta bisnis di Kalimantan Selatan, Banjarbaru mengalami peningkatan mobilitas penduduk yang berkontribusi terhadap penyebaran penyakit infeksi melalui transmisi udara. WHO (2023) mencatat bahwa daerah dengan tingkat urbanisasi tinggi dan polusi udara yang meningkat memiliki risiko lebih besar terhadap peningkatan kasus penyakit pernapasan. Paparan polutan dari kendaraan bermotor serta asap kebakaran hutan yang terjadi secara musiman semakin memperburuk kondisi ini, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia. Studi Cohen et al. (2020) menegaskan bahwa kualitas udara yang buruk meningkatkan kejadian penyakit pernapasan hingga 30%, sehingga diperlukan kebijakan mitigasi berupa pengendalian emisi kendaraan dan penghijauan perkotaan untuk menekan angka kasus.

Di luar penyakit berbasis lingkungan dan udara, beberapa kasus penyakit menular lainnya tetap menjadi perhatian meskipun jumlahnya relatif lebih kecil. Kasus rabies akibat gigitan hewan penular, difteri (1 kasus), leptospirosis (1 kasus), meningitis/encephalitis (2 kasus), serta pertusis (2 kasus) menunjukkan adanya celah dalam cakupan vaksinasi dan sistem kesehatan preventif di Banjarbaru. Penyakit seperti rabies tetap menjadi ancaman, terutama di wilayah yang memiliki populasi anjing liar yang tinggi. WHO (2023) merekomendasikan vaksinasi massal pada anjing sebagai langkah utama dalam pengendalian rabies, selain meningkatkan akses terhadap vaksin pasca pajanan bagi korban gigitan. Penyakit difteri dan pertusis yang masih muncul juga menjadi indikasi bahwa cakupan imunisasi dasar di beberapa kelompok masyarakat masih belum optimal, menuntut penguatan program imunisasi sebagai langkah preventif.

Selain itu, perubahan iklim turut berperan dalam mempengaruhi pola persebaran penyakit di Banjarbaru. Dengan curah hujan yang tinggi di awal dan akhir tahun, tingkat kelembaban meningkat dan menciptakan kondisi ideal bagi patogen untuk berkembang. Studi Solomon et al. (2020) mengungkapkan bahwa kelembaban di atas 75% mempercepat pertumbuhan patogen di udara dan permukaan benda, yang berdampak pada peningkatan infeksi pernapasan dan penyakit berbasis air. Fenomena ini menunjukkan bahwa kebijakan kesehatan masyarakat tidak hanya harus berfokus pada penanganan penyakit, tetapi juga pada mitigasi dampak perubahan iklim yang berkontribusi terhadap lonjakan kasus penyakit menular.

Untuk mengatasi tantangan ini, diperlukan strategi mitigasi yang konkret dan multisektoral. Pemerintah daerah perlu mengembangkan kebijakan pengendalian vektor yang berbasis data epidemiologi guna mengoptimalkan efektivitas program pengendalian penyakit, termasuk penanganan DBD yang tidak hanya sebatas fogging seremonial, tetapi juga pengelolaan lingkungan dan penerapan larvasida secara sistematis. Selain itu, pembangunan infrastruktur sanitasi dan pengolahan air bersih harus dipercepat untuk menekan angka kasus penyakit berbasis lingkungan. Program vaksinasi juga harus diperkuat guna mencegah penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi seperti difteri, pertusis, dan rabies.

Dinas Kesehatan juga memiliki peran penting dalam meningkatkan edukasi kepada masyarakat tentang kebersihan lingkungan, pencegahan infeksi berbasis perilaku, serta pemanfaatan teknologi digital untuk memperkuat sistem surveilans penyakit. Penggunaan sistem pemantauan berbasis teknologi dapat membantu dalam pemetaan epidemiologi secara real-time, memungkinkan respons yang lebih cepat terhadap potensi wabah.

Masyarakat sendiri perlu berpartisipasi aktif dalam menjaga kebersihan lingkungan, terutama dalam upaya pemberantasan sarang nyamuk dan peningkatan kesadaran akan pentingnya vaksinasi. Penerapan pola hidup sehat juga harus ditingkatkan, termasuk menjaga kebersihan tangan, konsumsi air yang telah diolah dengan benar, serta menggunakan masker saat kondisi udara memburuk.

Kolaborasi dengan sektor swasta dan akademisi juga menjadi kunci dalam penanganan masalah kesehatan di Banjarbaru. Penelitian lebih lanjut mengenai pola penyakit menular dan dampak perubahan iklim terhadap epidemiologi penyakit harus terus dilakukan. Pengembangan teknologi deteksi dini dan sistem peringatan wabah berbasis data juga dapat menjadi langkah strategis dalam mengantisipasi peningkatan kasus di masa depan.

Dengan implementasi kebijakan yang terarah, berbasis data, dan didukung oleh partisipasi semua pihak, Banjarbaru dapat membangun sistem kesehatan yang lebih tangguh dan adaptif. Langkah-langkah preventif yang diperkuat dengan pendekatan inovatif akan memastikan bahwa tantangan kesehatan masyarakat dapat diatasi secara efektif, menciptakan lingkungan yang lebih sehat dan aman bagi seluruh penduduk.

Oleh: DR. H. Ahyar Wahyudi, S.Kep. Ns., M.Kep., CISHR, FISQua, FRSPH, FIHFAA (Reviewer Jurnal PRAJA Observer: Jurnal Penelitian Administrasi Publik)
© Copyright 2022 - Kalsel Today