BANJARBARU, kalseltoday.com - Selamat pagi, siang, sore, dan malam kepada mereka yang menunggu reda, kepada mereka yang menyimak langit kelabu dengan harapan yang tertahan. Pagi ini, Jumat, 21 Februari 2025, waktu menunjukkan pukul 09:33:14 WIB, sebuah momen dalam pusaran hari yang masih terus berulang, tetapi dengan ancaman yang kian nyata. Langit di atas Banjarbaru bukan sekadar gerimis atau kilatan petir di kejauhan. Hujan yang jatuh di Landasan Ulin, Cempaka, dan Banjarbaru Utara adalah gema dari ketidaksiapan kita menghadapi wabah yang terus tumbuh.
Suhu yang berkisar antara 25 hingga 30 derajat Celsius dengan kelembapan mencapai 95 persen menciptakan lahan subur bagi mikroorganisme untuk berkembang. Hujan petir yang merajai langit Liang Anggang dan Banjarbaru Selatan bukan sekadar fenomena meteorologi, tetapi alarm bagi sistem kesehatan yang mulai goyah. Cuaca ekstrem ini, sebagaimana dicatat oleh BMKG, menjadi katalis bagi penyakit menular yang menyebar dengan kecepatan yang mengkhawatirkan. Sementara manusia menunggu hujan reda, virus dan bakteri menemukan jalan mereka di antara genangan, di dalam paru-paru, dan di setiap sudut lingkungan yang tak terawat.
Data dari SKDR menunjukkan angka-angka yang menggetarkan. 120 kasus diare akut dalam tujuh minggu pertama tahun ini, mencerminkan buruknya sistem sanitasi yang menjadi sumber utama penyakit berbasis air. Disentri berdarah mencatat 54 kasus, menjadi pengingat bahwa akses air bersih bukanlah kemewahan, tetapi hak yang semakin sulit dijangkau oleh masyarakat yang terdampak krisis infrastruktur. Wabah Demam Dengue yang menginfeksi 107 warga Banjarbaru adalah bukti bahwa kita gagal menutup celah bagi nyamuk pembawa virus, meskipun cuaca telah memberikan peringatan berulang kali.
Dalam ilmu epidemiologi, kita diajarkan untuk membaca pola. Pola yang kita saksikan di Banjarbaru hari ini bukan sekadar variasi statistik, tetapi gejala dari kegagalan struktural yang telah berlangsung lama. WHO (2023) mencatat bahwa setiap peningkatan suhu sebesar satu derajat Celsius dapat mempercepat perkembangbiakan vektor penyakit seperti nyamuk Aedes aegypti hingga 50 persen. Jika kita melihat fakta bahwa suhu di Banjarbaru terus berada dalam kisaran optimal bagi perkembangbiakan nyamuk, maka lonjakan kasus Dengue yang kita alami bukanlah kejutan, tetapi konsekuensi yang seharusnya bisa diantisipasi.
Sementara itu, peningkatan kasus ISPA yang mencapai hampir 900 dalam beberapa pekan terakhir menjadi bukti bahwa udara yang kita hirup tak lagi membawa kehidupan, tetapi ancaman yang tak terlihat. Hujan petir yang terjadi hampir setiap hari meningkatkan kelembapan, menciptakan lingkungan yang ideal bagi penyebaran virus pernapasan. Penyakit berbasis pernapasan ini menjadi momok yang semakin menakutkan, terutama bagi mereka yang sistem imunnya telah dilemahkan oleh gizi buruk, polusi udara, dan keterbatasan akses layanan kesehatan.
Kesiapan sistem kesehatan Kota Banjarbaru dalam menghadapi krisis ini patut dipertanyakan. Jika kita kembali pada teori kapasitas sistem kesehatan yang dikemukakan oleh Andersen dan Newman (1973), maka terlihat jelas bahwa kita berada dalam kondisi yang jauh dari ideal. Fasilitas kesehatan mulai kelebihan kapasitas, tenaga medis menghadapi kelelahan kronis, sementara masyarakat yang membutuhkan perawatan mendapati diri mereka terjebak dalam antrean panjang yang tak berujung. Situasi ini mencerminkan bahwa kita masih belum memiliki sistem mitigasi yang mampu merespons lonjakan penyakit dengan cepat dan efisien.
Pendekatan berbasis bukti menjadi semakin penting dalam kebijakan kesehatan Banjarbaru. Data harus menjadi kompas dalam menentukan arah kebijakan, bukan sekadar angka di laporan yang dibaca tanpa tindakan lanjut. Nutley et al. (2007) menegaskan bahwa kebijakan kesehatan yang berbasis data memiliki tingkat efektivitas yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan respons ad hoc yang sering kali justru memperburuk keadaan. Oleh karena itu, Banjarbaru harus segera memperkuat sistem surveilans epidemiologi agar setiap lonjakan kasus dapat diidentifikasi lebih dini dan ditangani sebelum berkembang menjadi epidemi yang tak terkendali.
Namun, upaya mitigasi tidak bisa hanya dilakukan di ruang kebijakan. Faktor sosial-ekonomi juga memainkan peran yang tak kalah penting dalam menentukan seberapa besar dampak yang akan ditanggung masyarakat. Teori determinan sosial kesehatan dari Marmot dan Wilkinson (2006) menunjukkan bahwa kemiskinan, akses kesehatan yang terbatas, dan kondisi pemukiman yang buruk adalah faktor utama yang memperburuk angka kejadian penyakit menular. Jika kita melihat bagaimana wabah ini lebih banyak menyerang wilayah dengan kepadatan penduduk tinggi dan sanitasi yang buruk, maka tidak sulit untuk menyimpulkan bahwa ini bukan sekadar krisis kesehatan, tetapi juga krisis sosial yang harus ditangani dengan pendekatan lintas sektor.
Apa yang harus dilakukan? Langkah pertama adalah penguatan program pengendalian vektor. Fogging harus dilakukan secara berkala di daerah dengan risiko tinggi, tetapi lebih dari itu, pemberantasan sarang nyamuk harus menjadi bagian dari budaya masyarakat, bukan sekadar program musiman yang datang dan pergi. Pendidikan mengenai kebersihan lingkungan harus ditingkatkan, bukan hanya melalui kampanye di media sosial, tetapi juga melalui pendekatan langsung ke komunitas-komunitas yang paling rentan terdampak.
Langkah kedua adalah mempercepat vaksinasi massal. WHO (2023) menekankan bahwa cakupan vaksinasi yang luas adalah satu-satunya cara untuk mencegah lonjakan kasus penyakit yang dapat dicegah. Pemerintah Banjarbaru harus memastikan bahwa setiap anak mendapatkan imunisasi yang dibutuhkan, tanpa terkecuali. Ini bukan hanya soal kebijakan kesehatan, tetapi juga soal hak dasar setiap individu untuk mendapatkan perlindungan terhadap penyakit yang bisa dicegah.
Langkah ketiga adalah investasi dalam infrastruktur kesehatan jangka panjang. Studi dari Kruk et al. (2018) dalam The Lancet Global Health menunjukkan bahwa sistem kesehatan primer yang kuat dapat mengurangi angka kematian akibat penyakit menular hingga 50 persen. Banjarbaru tidak bisa terus bergantung pada respons darurat setiap kali krisis terjadi. Diperlukan peningkatan jumlah tenaga medis, pemerataan fasilitas kesehatan, serta perbaikan distribusi obat-obatan esensial agar sistem kesehatan mampu bertahan menghadapi lonjakan penyakit yang tak terhindarkan.
Saat ini, hujan masih turun di Banjarbaru. Suhu masih bertahan dalam kisaran yang ideal bagi penyebaran penyakit. Kelembapan masih menciptakan ruang nyaman bagi mikroorganisme untuk berkembang. Jika kita tidak segera bertindak, jika kita terus menunda langkah-langkah strategis yang seharusnya sudah dilakukan sejak lama, maka kita hanya tinggal menghitung waktu sebelum Banjarbaru tenggelam dalam gelombang epidemi yang lebih besar.
Referensi
Andersen, R., & Newman, J. F. (1973). Societal and individual determinants of medical care utilization in the United States. Milbank Memorial Fund Quarterly, 51(1), 95-124.
Gubler, D. J. (2011). Dengue, urbanization and globalization: The unholy trinity of the 21st century. The Lancet Infectious Diseases, 11(9), 627-635.
Kruk, M. E., et al. (2018). High-quality health systems in the Sustainable Development Goals era: Time for a revolution. The Lancet Global Health, 6(11), e1196-e1252.
WHO. (2023). Global Vaccine Action Plan: Review and Analysis. World Health Organization.
UNICEF. (2023). State of the World’s Sanitation: An urgent call for investment. United Nations.
Oleh: DR. H. Ahyar Wahyudi, S.Kep. Ns., M.Kep., CISHR, FISQua, FRSPH, FIHFAA (Reviewer Jurnal PRAJA Observer: Jurnal Penelitian Administrasi Publik)
Berita