![]() |
DR. H. Ahyar Wahyudi, S.Kep. Ns., M.Kep., CISHR, FISQua, FRSPH, FIHFAA |
BANJARBARU, kalseltoday.com - Selamat pagi, siang, sore, dan malam untuk warga Banjarmasin yang selalu berjuang menjaga keindahan kota, menghadapi berbagai tantangan dengan semangat dan optimisme. Banjarmasin adalah kota yang dinamis, penuh kehidupan, dan menjadi pusat perdagangan yang terus berkembang. Namun, di balik hiruk-pikuk aktivitas harian, ada satu permasalahan mendesak yang tak bisa lagi diabaikan: pengelolaan sampah yang semakin membebani lingkungan dan kehidupan masyarakat.
Sejak penutupan Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPAS) Basirih, kota ini menghadapi lonjakan sampah yang luar biasa. TPS sementara yang ada tidak lagi mampu menampung limbah harian, menyebabkan tumpukan sampah meluber ke jalanan dan mengganggu aktivitas warga. Bau menyengat mencemari udara, menciptakan ketidaknyamanan, dan berpotensi menimbulkan berbagai penyakit. Jika ini terus dibiarkan, maka bukan hanya kebersihan yang terancam, tetapi juga kualitas hidup seluruh masyarakat.
Untuk itu, diperlukan langkah cepat, tepat, dan berorientasi jangka panjang. Pendekatan NOISE (Needs, Opportunities, Improvements, Strengths, Exceptions) menjadi kerangka yang tepat untuk menganalisis krisis ini, mencari peluang inovasi, dan mengembangkan solusi yang tidak hanya efisien tetapi juga efektif. Dalam tulisan ini, beberapa inovasi unggulan akan ditawarkan sebagai bahan pertimbangan bagi Wali Kota Banjarmasin yang baru terpilih—pemimpin dengan visi progresif dan pemikiran revolusioner yang siap membawa perubahan nyata bagi kota ini.
Kebutuhan Mendesak dalam Pengelolaan Sampah
Krisis sampah yang dihadapi Banjarmasin saat ini bukan sekadar masalah penumpukan limbah, tetapi juga mencerminkan kurangnya sistem pengelolaan yang adaptif terhadap perkembangan kota. Dengan produksi sampah mencapai 650 ton per hari, sistem yang ada tidak lagi relevan. Pengelolaan berbasis pembuangan ke TPA tidak lagi bisa diandalkan. Kota-kota besar di dunia telah membuktikan bahwa strategi pengurangan sampah sejak dari sumbernya jauh lebih efektif dibandingkan sekadar mencari lokasi baru untuk menumpuk limbah.
Menurut laporan World Bank (2022), kota-kota yang menerapkan sistem pemilahan sampah dari sumber berhasil mengurangi 50% limbah yang masuk ke TPA. Hal ini menunjukkan bahwa edukasi masyarakat dalam memilah sampah dan sistem yang mendukung pengolahan sejak dari rumah tangga adalah langkah fundamental yang harus segera diterapkan di Banjarmasin.
Selain itu, peran teknologi dalam pengelolaan sampah menjadi kebutuhan yang tak terhindarkan. Smart Waste Management System (SWMS) yang berbasis digital telah terbukti mampu meningkatkan efisiensi hingga 30% dalam pengangkutan sampah dan mengurangi biaya operasional secara signifikan (International Solid Waste Association, 2021). Dengan mengadopsi teknologi ini, Banjarmasin bisa mengubah cara sampah dikelola, dari sistem manual yang tidak terpantau ke sistem berbasis data yang transparan dan terukur.
Peluang untuk Reformasi Sistem Pengelolaan Sampah
Dalam setiap tantangan, selalu ada peluang. Banjarmasin memiliki kesempatan besar untuk menjadikan krisis ini sebagai titik balik dalam pengelolaan limbah kota. Salah satu peluang terbesar adalah penerapan ekonomi sirkular, sebuah sistem yang memungkinkan sampah tidak lagi menjadi beban tetapi menjadi sumber daya.
Negara-negara seperti Jerman dan Swedia telah membuktikan bahwa konsep daur ulang berbasis ekonomi sirkular mampu mengurangi emisi karbon hingga 60% dan meningkatkan efisiensi dalam pengelolaan sampah kota (Ellen MacArthur Foundation, 2019). Dengan menerapkan sistem serupa, Banjarmasin dapat membangun infrastruktur yang memungkinkan sampah organik dikonversi menjadi kompos, sedangkan sampah plastik dan anorganik diolah kembali menjadi bahan baku industri.
Selain itu, Waste-to-Energy (WtE) menjadi opsi yang harus mulai dipertimbangkan. Dengan teknologi yang semakin berkembang, limbah kota bisa dikonversi menjadi sumber energi yang bermanfaat. Singapura dan Tokyo telah membangun fasilitas WtE yang mampu mengubah 80% limbah padat menjadi listrik. Dengan jumlah produksi sampah yang tinggi, Banjarmasin memiliki potensi besar untuk membangun fasilitas serupa, yang tidak hanya mengatasi krisis sampah tetapi juga menyediakan sumber energi alternatif bagi kota.
Langkah Konkret untuk Percepatan Implementasi Solusi
Agar krisis ini bisa segera diatasi, Banjarmasin perlu mengadopsi beberapa langkah strategis yang telah terbukti berhasil di berbagai kota lain. Berikut beberapa skema inovasi yang dapat diterapkan:
Penerapan Smart Waste Management System (SWMS) dapat menjadi solusi utama dalam mengelola sampah secara lebih efektif. Sistem ini memungkinkan pemantauan tingkat kepenuhan sampah di TPS melalui sensor berbasis IoT secara real-time. Dengan adanya teknologi ini, pengangkutan sampah dapat dioptimalkan dengan sistem berbasis data untuk mengurangi penggunaan bahan bakar dan biaya operasional. Lebih lanjut, pengembangan aplikasi yang memungkinkan warga melaporkan titik penumpukan sampah dan mendapatkan insentif atas partisipasi mereka akan meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam upaya menjaga kebersihan kota.
Selain itu, pembangunan fasilitas Waste-to-Energy (WtE) adalah langkah strategis yang dapat mengubah permasalahan sampah menjadi peluang energi alternatif. Dengan mengadopsi teknologi insinerator modern yang ramah lingkungan dan memiliki tingkat emisi rendah, sampah yang selama ini menjadi beban dapat dikonversi menjadi listrik bagi masyarakat. Pemerintah kota juga dapat berkolaborasi dengan investor dan sektor swasta untuk mendanai proyek ini, serta menerapkan model insentif pajak guna menarik lebih banyak investasi dalam pengelolaan limbah.
Pengembangan skema pemilahan sampah berbasis insentif juga dapat mendorong masyarakat untuk lebih aktif dalam memilah sampah sejak dari rumah tangga. Sistem ini dapat diterapkan dengan memberikan insentif berupa pengurangan pajak atau token digital yang dapat digunakan untuk layanan publik bagi warga yang disiplin dalam memilah sampah. Selain itu, pembangunan pusat daur ulang di beberapa titik strategis memungkinkan masyarakat untuk menyetorkan sampah yang sudah dipilah dengan mudah. Pemerintah juga perlu mengembangkan program edukasi berbasis komunitas untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pemilahan sampah sebagai bagian dari solusi jangka panjang.
Penerapan sistem digitalisasi insentif juga bisa menjadi strategi inovatif yang memastikan transparansi dalam distribusi insentif bagi masyarakat yang berpartisipasi dalam program daur ulang. Dengan memanfaatkan sistem berbasis blockchain, insentif dapat diberikan secara akurat dan adil kepada warga yang aktif memilah dan mendaur ulang sampah. Selain itu, kerja sama dengan toko-toko dan restoran untuk memberikan diskon bagi pelanggan yang berpartisipasi dalam program daur ulang dapat menjadi daya tarik tambahan yang meningkatkan partisipasi masyarakat dalam menjaga kebersihan kota.
Kesimpulan dan Apresiasi untuk Wali Kota Terpilih
Banjarmasin memiliki kesempatan emas untuk tidak hanya menyelesaikan krisis sampah saat ini, tetapi juga membangun sistem yang lebih modern dan berkelanjutan. Dengan mengadopsi strategi berbasis teknologi, ekonomi sirkular, dan partisipasi masyarakat, kota ini dapat menjadi contoh bagi daerah lain dalam pengelolaan limbah yang lebih efektif.
Kepada Wali Kota Banjarmasin yang baru terpilih, kami mengapresiasi dedikasi dan pemikiran revolusioner yang telah ditunjukkan dalam upaya membawa perubahan positif bagi kota ini. Harapan besar tertanam pada kepemimpinan yang berani mengambil keputusan progresif, yang tidak hanya mengatasi masalah hari ini tetapi juga membangun fondasi untuk masa depan yang lebih baik.
Sebagaimana pepatah lama menyebutkan, "Kota yang bersih bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi cerminan dari masyarakat yang peduli." Kini saatnya kita bersama-sama membuktikan bahwa Banjarmasin mampu bertransformasi menjadi kota yang lebih hijau, sehat, dan berdaya guna bagi generasi mendatang. (*)
Oleh: DR. H. Ahyar Wahyudi, S.Kep. Ns., M.Kep., CISHR, FISQua, FRSPH, FIHFAA (Reviewer Jurnal PRAJA Observer: Jurnal Penelitian Administrasi Publik)
Berita